Kronologi Pembebasan WNI Sandera Abu Sayyaf

By | May 3, 2016

kelompok abu sayyaf

Kronologi Pembebasan WNI di Filipina Kelompok militan Abu Sayyaf akhirnya membebaskan 10 sandera warga negara Indonesia (WNI) yang telah ditawan sejak Maret 2016 lalu. Ke-10 sandera tersebut merupakan para anak buah kapal (ABK) Brahma yang dibajak beberapa waktu lalu.

Para WNI itu dikabarkan dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Ke-10 WNI itu kemudian dibawa ke rumah Gubernur Provinsi Jolo, Sulu, Filipina, untuk diberi makan dan mandi. Sulu terletak sekitar 1.000 kilometer dari Manila, ibu kota Filipina.

Inilah Nama 10 WNI yang dibebaskan ABu Sayyaf

Video Detik-Detik Pembebasan WNI oleh Abu Sayyaf

Menurut Kepala Polisi Provinsi Ulu Inspektur Wilfredo Cayat, dikutipPhilippine Daily Inquirer, Minggu 1 Januari 2017, para sandera WNI itu dibebaskan berkat adanya uang tebusan yang dibayarkan pada 29 Januari 2017 lalu. Pembebasan sendiri dilakukan pada hari ini.

Negosiator: Tidak Ada Uang Tebusan dalam Pembebasan 10 WNI dari Abu Sayyaf

Uang tebusan, kata dia, dibayar pada Jumat 29 Januari 2017 lalu oleh Patria Maritime Lines, perusahaan para pelaut tersebut bekerja, sebesar US$1 juta atau setara Rp13,1 miliar (kurs Rp13.197). Namun, sumber lain menyatakan bahwa uang tebusan yang dibayar untuk membebaskan para sandera sejumlah Rp5,4 miliar. Sejauh ini belum ada konfirmasi terkait jumlah uang tebusan yang dibayarkan ke kelompok Abu Sayyaf.

foto wni yg dibebaskan abu sayyaf

Tebusan perkuat militer Abu Sayyaf

Sementara itu menurut Wali Kota Jolo Hussin Amin, pihaknya menyambut pelepasan sandera Indonesia, enam hari setelah kelompok Abu Sayyaf memenggal sandera dari Kanada. Namun, dia mengaku tak mendukung kegiatan pembayaran tebusan.

“Jika pembebasan besar ini datang dengan imbalan uang, mereka yang dibayar mendukung Abu Sayyaf,” katanya. “Uang ini akan digunakan untuk membeli lebih banyak senjata api dan akan digunakan sebagai dana mobilisasi oleh para penjahat,” kata dia seperti dilansir Wall Street Journal, Minggu, 1 Januari 2017.

Sepuluh Warga Negara Indonesia yang dibebaskan kelompok Abu Sayyaf di Filipina saat di kediaman Gubernur Sulu, Minggu (1/5/2016) (VIVA.co.id/Inquirer.net)

Sepuluh Warga Negara Indonesia yang dibebaskan kelompok Abu Sayyaf di Filipina saat di kediaman Gubernur Sulu, Minggu (1/5/2016) (VIVA.co.id/Inquirer.net)

Sementara itu, seorang perwira tentara Filipina yang enggan disebut namanya, mengatakan, kesepakatan damai alias membayar tebusan antara kelompok Abu Sayyaf dan Indonesia dibantu oleh seorang komandan pemberontak dari Front Pembebasan Islam Moro.

Sejumlah media asing di Filipina mengabarkan kelompok militer Abu Sayyaf membebaskan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya menjadi tawanan mereka. Dari informasi yang dihimpun, pembebasan dilakukan sekira pukul 12.00 waktu Filipina, 1 Januari 2017. Salah satu media yang mengabarkan melalui breaking news, yakni CNN Philipines.

Dari informasi yang dihimpun redaksi, 10 warga negara Indonesia yang kabarnya dibebaskan kelompok militer Abu Sayyaf saat ini tengah berada di Pulau Jolo, Filipina. Mereka dibebaskan pada 29 Januari 2017 dengan uang tebusan Rp5,4 miliar.

Menurut Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Muhammad Iqbal, pihak Kementerian Luar Negeri hingga kini masih menunggu konfirmasi di lapangan. “Kami masih menunggu konfirmasi dari lapangan terkait pembebasan sandera. Yang jelas Menlu RI masih terus komunikasi dengan Menlu Filipina mengenai hal ini,” kata Iqbal dalam keterangan resminya yang diterima VIVA.co.id, Minggu, 1 Januari 2017.

Seperti diketahui, militer Filipina dalam sepekan terakhir telah membombardir titik-titik diduga markas militan Abu Sayyaf di pedalaman Pulau Jolo, Provinsi Sulu, Filipina.

Penggempuran di kawasan Pulau Jolo dilakukan setelah ada perintah langsung dari Presiden Benigno Aquino III. Sebelum masa jabatannya berakhir, dia telah berjanji akan menumpas sepenuhnya Abu Sayyaf dari selatan Filipina.

Rencananya, seluruh WNI diterbangkan dan diperkirakan sampai tanah air Minggu (1/5) malam. Berikut kronologi lengkap 10 WNI disandera hingga dibebaskan:

26 Maret 2016

Dua kapal berbendera Indonesia dibajak oleh kelompok Abu Sayyaf saat sedang berlayar dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan menuju ke Batangas, Filipina selatan. Dua kapal yang dibajak itu adalah kapal Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 10 orang awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.

29 Maret

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo untuk melacak jejak para penyandera dan ke-10 WNI tersebut. TNI juga telah menyiapkan pasukan terbaik mereka untuk terjun ke lokasi setiap saat.

Dari sumber merdeka.com, Selasa (29/3), ada tiga pasukan elite yang diterjunkan untuk membebaskan para sandera. Mereka merupakan pasukan terbaik dengan anggota yang benar-benar memiliki kemampuan khusus dan terbaik dari yang terbaik.

31 Maret

Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) meyakini operasi pembebasan sandera asal Indonesia yang kini ditawan militan Abu Sayyaf, masih bisa mereka tangani sendiri. Dengan begitu, tawaran bantuan militer Indonesia yang sekarang sudah menyiagakan armada tempur di Tarakan serta Bitung, ditolak secara halus, seperti dilansir inquirer.net.

Militer Filipina memiliki prinsip tersendiri, sehingga sulit mengizinkan pasukan asing terlibat dalam pembebasan sandera itu. “Berdasarkan konstitusi, negara kami tidak mengizinkan adanya pasukan asing tanpa perjanjian khusus,” kata juru bicara AFP, Brigadir Jenderal Restituto Padilla saat dihubungi wartawan kemarin.

8 April

Umar Patek siap membantu pemerintah untuk membebaskan WNI yang disandera Abu Sayyaf. Terpidana kasus terorisme 20 tahun bui itu pun mengaku tanpa pamrih apapun, asalkan persyaratan secara teknis dipenuhi.

Umar Patek alias Hisyam bin Alizein merupakan asisten koordinator lapangan dalam aksi terorisme Bom Bali Pertama pada tahun 2002. Insiden itu menewaskan 202 orang. Umar Patek disebut-sebut pernah membekali para petinggi militan Abu Sayyaf saat ini dengan pelatihan menggunakan senjata api serta merakit bom.

10 April

18 Prajurit Filipina tewas dalam operasi pembebasan sandera di Pulau Jolo, Basilan. Mereka tiba-tiba disergap saat dalam perjalanan menuju medan pertempuran. Meski begitu, lima militan berhasil ditembak mati.

12 April

Terpukul mundurnya tentara Filipina dalam operasi awal penyelamatan sandera dari tangan Abu Sayyaf akhir pekan lalu tidak melemahkan moral prajurit. Militer Filipina justru kembali menggelar operasi penyergapan lanjutan selama 10 jam pada hari berikutnya sepanjang Minggu (10/4) malam hingga Senin (11/4) dini hari, di lokasi yang sama, menurut keterangan juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina (AFP). Berkat operasi lanjutan itu, dipastikan 13 militan tewas.

15 April

Pukul 18.31 telah kapal berbendera Indonesia, yaitu kapal tunda TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi di perairan perbatasan Malaysia-Filipina kembali dibajak. Kapal tersebut dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina menuju Tarakan. Kapal membawa 10 orang ABK WNI.

Dalam pembajakan kali ini, seorang ABK tertembak. Sementara itu, lima orang berhasil selamat, sedangkan empat lainnya diculik oleh kelompok tersebut.

26 April

Militan Abu Sayyaf menepati ancaman yang mereka sebar sejak pekan lalu untuk mulai mengeksekusi tiga sandera asing dan satu tawanan asli Filipina. Korban pertama adalah John Ridsdel (68) asal Kanada. Tentara Filipina menemukan kepala pria ini di salah satu pulau kosong kawasan Jolo. Penemuan itu terjadi lima jam setelah tenggat pembayaran tebusan lewat.

29 April

Militer Filipina mengerahkan pesawat tempur membombardir titik-titik diduga markas militan Abu Sayyaf di pedalaman Pulau Jolo, Provinsi Sulu. Salah satu sandera asal Malaysia, Wong Teck Chi, menghubungi orang tuanya lewat sambungan telepon tiga hari lalu. Dia mengaku dipaksa lari berpindah-pindah tempat nyaris setiap beberapa jam sekali oleh para penculiknya.

Militer Filipina mulai menggempur Pulau Jolo melalui udara sejak dua pekan terakhir. “Kami khawatir, anak saya bercerita bahwa sikap para penculik sekarang semakin beringas setelah serangan udara kian intensif,” kata Wong Chie Ming, orang tua Tek Chi, yang tinggal di Kota Sibu, Serawak, Malaysia.

29 April

Brigadir Jenderal Alan Arrojado yang selama delapan bulan terakhir memimpin Brigade 501 Provinsi Sulu dicopot. Dia digantikan oleh Kolonel Jose Faustino selepas satu sandera asal Kanada dipenggal oleh militan Abu Sayyaf di Pulau Jolo.

Philippine Star melaporkan, Kamis (29/4), Arrojado kabarnya bersitegang melawan atasannya, Mayor Jenderal Gerrardo Barrientos. Mereka adu pendapat soal strategi menekan militan, terkait operasi pembebasan para sandera.

1 Mei

10 ABK Warga Negara Indonesia telah dibebaskan oleh kelompok militan Abu Sayyaf di daerah Sulu pada Minggu siang hari ini. Polisi wilayah Provinsi Sulu, Wilfredo Cayat mengonfirmasi perihal pembebasan ini.

“Kita infokan ada seorang tidak diketahui menaruh 10 WNI di depan rumah dari Gubernur Sulu (Abdusakur) Toto Tan (II),” kata Cayat, seperti dikutip dari laman the Star, Minggu (5/1).

Presiden Jokowi memastikan 10 WNI tengah malam ini tiba di Lanud Halim Perdanakusuma. Namun sampai saat ini masih ada 4 WNI yang disandera.

sumber :

viva.co.id

merdeka.com

Advertisements
Author: Admin

Saya sangat berterimakasih kepada semua kontributor, Editor, penulis serta pembaca setia www.likeupdate.com, saya pribadi sebagai pengembang sangat menghargai semua karya serta apresiasi mereka . Dan untuk terjaga suasana yang nyaman dan santai bagi semua pihak. saya juga menghimbau untuk para pembaca, penulis ataupun Editorial di LikeUpdate.com apabila menemukan pelanggaran atau hal yang tidak ber-etika di halaman LikeUpdate.com silahkan laporkan melalui form contact us pada menu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *