Apa itu skip challenge dan Bahayanya Hingga kematian?

By | March 11, 2017

Skip challenge atau pass out challenge belakangan menjadi viral di media sosial dan diketahui membahayakan jiwa mereka yang melakukannya.

Tantangan dan pengakuan dari lingkungan menjadi hal yang identik untuk remaja, contohnya dengan mencoba tren permainan yang disebut dengan #SkipChallenge. Sayangnya, jenis permainan yang sedang ramai dipertontonkan di media sosial ini dapat mengancam jiwa.

Di negara Barat khususnya Amerika, Tantangan #SkipChallenge ini disebut dengan Choking Game atau #PassoutChallenge. Cara bermainnya dengan menekan dada sekeras-kerasnya selama beberapa detik dan menyebabkan pemain kekurangan oksigen, lalu jatuh pingsan.

Mengutip WebMD, Jumat (10/3/2017) permainan mematikan ini juga bisa dilakukan sendiri menggunakan tali yang dililitkan ke dada lalu ditarik, seperti mencekik leher sendiri. Namun, para remaja biasanya melakukan secara berkelompok atau lebih dari dua orang.

Alfred Sacchetti, chief emergency medicine dari Our Lady of Lourdes Medical Center, Camden, mengatakan permainan ini bisa merenggut nyawa saat pertama kali dimainkan.

“Ini nyata dan benar-benar berbahaya, permainan ini sama saja dengan bunuh diri,” kata Sacchetti.

Sebuah studi CDC baru-baru ini menganalisis 82 kasus #SkipChallenge yang berisiko pada kematian. Menurut studi rata-rata usia anak yang melakukan permainan mematikan ini adalah enam sampai 19. Dan sebesar 87 persen permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki.

Studi juga menemukan 93 persen orangtua belum mengetahui permainan #SkipChallenge yang mengancam jiwa anak-anak mereka.

Dari video yang beredar di media sosial, bisa terlihat bagaimana remaja tiba-tiba pingsan hingga kejang-kejang setelah dadanya ditekan selama beberapa menit. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Harapan Kita, Yoga Yuniadi menjelaskan, penekanan pada dada tersebut berujung pada menurunnya kadar oksigen dalam darah atau disebut hipoksia.

“Berdasarkan video, yang terjadi adalah penekanan dada yang cukup keras untuk menghalangi upaya napas, tapi tidak cukup keras untuk mengubah pola denyut jantung. Jadi akibatnya kadar oksigen darah menurun,” jelas Yoga saat dihubungi, Jumat (10/3/2017).

Yoga mengatakan, ketika seseorang mengalami hipoksia, yang pertama kali akan terdampak adalah bagian otak. Kekurangan oksigen di bagian otak itulah yang menyebabkan penurunan kesadaran hingga kejang. Akibat fatalnya, hipoksia bisa menyebabkan kerusakan otak.

“Hipoksia otak bila terjadi 4 menit akan menyebaban kerusakan otak yang bersifat permanen,” kata Yoga.

Sayangnya, sejumlah remaja yang melakukan skip challenge tak memperhatikan masalah kesehatannya. Mereka justru terlihat menganggap permainan yang viral di media sosial dengan tagar #SkipChallenge itu sebagai sebuah tantangan yang patut dicoba.

Mengingat banyak video bertagar #SkipChallenge yang dilakukan dalam kelas di sekolah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pun meminta pada guru mencegah remaja lakukan skip challenge.

Sebelum ramai dilakukan sejumlah remaja di Indonesia, skip challenge atau passout challenge juga banyak dilakukan remaja di Amerika. Tantangan skip challenge bahkan telah memakan korban di AS.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menyatakan, sepanjang 1995-2007 saja, ada 82 media di AS yang melaporkan kematian karena skip challenge.

Video orang-orang yang melakukan Skip Challenge “Adegan berbahaya”

Berikut sejumlah fakta di balik munculnya tantangan yang juga disebut choking game itu:

1. Tren di Inggris sejak 2005

Harian the Independent menyebut fenomena choking game telah muncul sejak 2005 lalu di Inggris, setelah menimbulkan sejumlah kematian.

Dalam tantangan itu peserta harus ditekan dadanya sekeras mungkin selama beberapa waktu. Akibat tekanan itu suplai oksigen ke otak berkurang dan kondisi ini berujung hilangnya kesadaran hingga kematian.

Salah satu korban meninggal adalah Karnel Haughton asal Birmingham, pada 1 Juni 2016 lalu. Pihak keluarga mengklaim Karnel meninggal karena sesak napas, dan meyakini hal ini karena choking game. Mereka tidak percaya sang putra sengaja berusaha untuk bunuh diri.

2. Menjadi tren karena internet

Sama halnya seperti “ice bucket challenge” dan permainan di internet lainnya, choking game juga populer karena internet.

“Yang internet lakukan salah satunya adalah melegalkan perilaku-perilaku tak aman dan tak sehat,” ujar Psikolog asal Inggris Emma Citron.

3. Dilakukan bahkan oleh anak muda yang cerdas

Lembaga amal di Amerika Serikat mengungkapkan tantangan ini biasanya dilakukan anak-anak muda berusia 9-16 tahun yang rata-rata cerdas dan berprestasi, bukan mereka yang merupakan pecandu alkohol dan narkotika.

Pada 2016, mereka memperkirakan sekitar 250-1000 orang anak meninggal di Amerika Serikat karena memainkan tantangan choking game.

4. Tantangan dilakukan karena ingin jajal keberanian

Citron mengatakan bagi remaja, skip challenge dianggap sebagai permainan menjajal keberanian atau dare game.

“Mereka memandang sebagai dare game. Saya tidak berpikir mereka merasa itu merugikan diri sendiri, mereka hanya tidak cukup dewasa untuk menyadari betapa sangat berbahaya permainan itu,” tutur dia.

“Di sini ada unsur kompetitif – bagaimana saya bisa berani? Berapa banyak yang dapat saya lakukan?” sambung Citron.


Author: Alkhalifi Sastra

Saya sangat berterimakasih kepada semua kontributor, Editor, penulis serta pembaca setia www.likeupdate.com, saya pribadi sebagai pengembang sangat menghargai semua karya serta apresiasi mereka . Dan untuk terjaga suasana yang nyaman dan santai bagi semua pihak. saya juga menghimbau untuk para pembaca, penulis ataupun Editorial di LikeUpdate.com apabila menemukan pelanggaran atau hal yang tidak ber-etika di halaman LikeUpdate.com silahkan laporkan melalui form contact us pada menu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *